Manajemen Risiko

Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang, atau dapat diartikan sebagai suatu keadaan ketidakpastian, di mana jika terjadi suatu keadaan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian.

Risiko merupakan kombinasi dari kemungkinan suatu kejadian dan akibat dari kejadian tersebut dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada lebih dari satu akibat yang mungkin terjadi untuk satu kejadian tertentu. Pada umumnya risiko dipandang dari perspektif negatif, seperti kehilangan, bahaya, kerugian, kegagalan dan lain sebagainya.

Hal-hal tersebut pada prinsipnya merupakan bentuk ketidakpastian yang mestinya dipahami dan dikelola secara efektif sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi organisasi.

Risiko sendiri, apabila dilihat secara umum, dapat dibagi menjadi empat jenis risiko, yaitu :

  • Risiko Operasional, yakni risiko yang berhubungan dengan operasional organisasi, antra lain misalnya risiko yang mencakup sistem organisasi, proses kerja, teknologi dan sumber daya manusia.
  • Risiko Finansial, yakni risiko yang berdampak pada kinerja keuangan organisasi seperti kejadian risiko akibat dari fluktuasi mata uang, tingkt suku bunga termasuk risiko pemeberian kredit, likuiditas da kondisi pasar.
  • Risiko bencana, yaitu risiko yang terkait dengan kecelakaan fisik seperti kerusakan karena kebakaran, gempa bumi, ancaman fisik dll
  • Risiko stratejik, yaitu risiko yang ada hubungannya dengan strategi perusahaan, politik, ekonomi, hukum. Risiko ini juga terkait dengan reputasi kepemimpinan organisasi dan perubahan selera pelanggan.

MANAJEMEN RISIKO

Manajemen Risiko adalah proses untuk mengidentifkasi kemungkinan, mengukur risiko dan membuat strategi untuk mengelola risiko sebelum terjadi. Dengan manajemen risiko maka memungkinkan pemilik bisnis untuk mengatur prosedur untuk menghindari risiko tersebut dan meminimalisasi dampak negatifnya serta mengatasinya. Oleh sebab itu sebuah bisnis harus membuat evaluasi yang realistis tentang potensi risiko dan merencanankan dengan tepat.

Tahapan Manajemen Risiko

1. IDENTIFIKASI RISIKO

Tahapan ini merupakan tahapan mengidentifikasi kemungkinan risiko yang terjadi atas aktivitas usaha. Membuat identifikasi risiko yang akurat merupakan tahapan paling penting dalam manajemen risiko. Pada tahapan identifikasi risiko,dapat dilakukan dengan membuat daftar kemungkinan risiko yang dapat terjadi sebanyak mungkin.

Beberapa cara yang dapat anda gunakan untuk mengidentifikasi risiko diantaranya :

  • Survey
  • Wawancara
  • Brainstroming
  • Informasi
  • Dll

2. MENGANALISA RISIKO

Tahapan selanjutnya setelah melakukan identifikasi risiko adalah melakukan analisa risiko dengan cara melihat melihat kemungkinan risiko tersebut terjadi dan besarnya kerugian yang ditimbulkan. Dengan mengukur risiko tersebut maka memungkinkan untuk mengetahui cara dalam mengatasinya risiko tersebut atau meminimalisai potensi risiko tersebut terjadi. Untuk menentukan kemungkinan risiko terjadi memang tergolong subyektif dan lebih berdasarkan pada pengalaman dan intuisi. Walaupun beberapa risiko dapat diukur tapi memastikan potensi risiko terjadi terbilang sangat sulit. Sehingga pada tahapan ini sangat penting untuk menentukan risiko yang paling berpotensi terjadi sehingga kita dapat menentukan risiko yang akan diprioritaskan dalam manajemen risiko.

3. PENGELOLAAN RISIKO

Dalam proses pengelolaanya berikut merupakan beberapa cara mengelola risiko :

  • Risk avoidance / Risk Mitigation : tidak melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan potesni risiko. Ketika anda harus melakukan kegiatan tersebut maka anda harus mempertimbangkan potensi keuntungan atau kerugian yang dapat ditimbulkan.
  • Risk reduction : cara untuk mengurangi potensi terjadi risiko atau mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari sebuah risiko.
  • Risk transfer : memindahkan risiko kepada pihak lain misalkan melalui kontrak asuransi.
  • Risk defferal : ketika kita menghadapi potensi risiko yang tidak konstan maka sebaiknya anda menunda untuk menjalankan sebuah kegiatan hingga saat potensi risiko tersebut memiliki kemunginan yang kecil terjadi.
  • Risk retention : walau beberapa risiko dapat dihilangkan atau dikurangi tapi beberapa risiko tidak bisa dikurangi atau dihilangkan sehingga harus tetap dihadapi sebagai bagian dari kegiatan usaha.

4. PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

Setelah kita menjalankan tahapan-tahapan manajemen risiko diatas maka langkah selanjutnya adalah implementasi manajemen risiko yang sudah direncanakan.

5. MELAKUKAN EVALUASI

Setelah mengidentifikasi, menganalisa dan mengimplemenasikan manajemen risiko maka hal yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan evaluasi terhadap manajemen risiko yang telah dilaksanakan. Melakukan evaluasi dan monitering risiko sangatlah penting, mulai dari tahapan identifikasi hingga implementasi risiko. Dengan monitoring dan evaluasi ini maka andabisa mengetahui keefektipan sebuah strategi dalam merespon risiko yang terjadi. Sehingga ketika risiko tersebut terjadi kembal maka kita dapat merespon dengan cepat untuk mengatasinya.

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started